Selasa, 25 Oktober 2011

Rumput tetangga tampaknya lebih hijau daripada rumput sendiri




Rumput tetangga tampaknya lebih hijau daripada rumput sendiri. Seperti itu pula sebuah perselingkuhan, pihak ketiga menyenangkan dan menggoda. Namun, untuk melakukannya tidaklah mudah. Sebab, tindakan ini dapat memacu seseorang menganggap pasangannya melakukan pengkhianatan dan ketidaksetiaan.
Beberapa alasan memang terungkap, mengapa wanita lebih memutuskan untuk selingkuh, daripada memperbaiki hubungan dengan sang suami? Hubungan yang kurang harmonis dalam pernikahan, bisa membawa wanita melakukan perselingkuhan.
Menurut data Ditjen Pembinaan Peradilan Agama (PPA) Mahkamah Agung,  perceraian akibat adanya gugatan dari istri setiap tahun selalu lebih tinggi dari angka perceraian akibat talak suami. Data dalam lima tahun terakhir menunjukkan, persentase perceraian akibat gugatan istri mencapai 56,2% (2000) naik menjadi 57,4% (2001), naik lagi menjadi 59,5% (2002), dan terus naik menjadi 60,7% (2003), 62,1% (2004) dan pada tahun 2005 naik lagi menjadi 63%.
Dari sekian banyak  penyebab  perceraian,  selingkuh merupakan salah satu penyebab yang sering disebut-sebut. Dari pergerakan data statistis di Direktorat Jenderal Pembinaan Peradilan Agama, terungkap bahwa selingkuh telah menjadi virus keluarga nomor empat di Indonesia. Dari fakta tersebut, kini terlihat bahwa selingkuh telah meluas dan menjadi ancaman bagi institusi keluarga bahagia di tanah air. 
Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, 14 persen perempuan pernah berselingkuh paling tidak satu kali. Selanjutnya, setidaknya 70% pria menikah dan 60% wanita menikah pernah berselingkuh. Itu artinya, dari tiga pernikahan, dua di antaranya “dihiasi” perselingkuhan. Data lain menyebutkan,  90% perceraian terjadi karena perselingkuhan, 50% terlibat perselingkuhan, namun hanya 25% yang menyatakan perselingkuhan adalah penyebab utama mereka bercerai. Hasil penelitian juga menyebutkan, 80% dari mereka yang bercerai ketika berselingkuh menyesali keputusan untuk bercerai. Kemudian 75% dari mereka yang menikahi pasangan selingkuhnya, ujungnya tetap berakhir dengan perceraian juga.
Menurut hasil penelitian “Frontir” (SWA 20/XIV/5-18 Oktober 2000), menunjukan, empat dari lima eksekutif  pria melakukan penyelewengan atau perselingkuhan. Dan dua dari lima wanita bekerja yang disurvei, pernah terlibat perselingkuhan sampai tahapan berhubungan intim (making love atau ML).
Persentase berselingkuh perempuan lebih kecil dibandingkan dengan pria. Namun paling tidak, data tersebut memberikan gambaran bahwa selingkuh merupakan fenomena tersendiri dan nampaknya tidak akan pernah redup di sepanjang zaman.
***
Selama hampir enam  bulan, saya  bersama tujuh teman wanita sempat  mewawancarai 100 orang  wanita berselingkuh. Mereka berasal dari golongan ekonomi bawah, menengah dan atas. Berusia antara 24-50 tahun, terdiri dari berbagai profesi,  dengan latar belakang pendidikan SLTA sampai S2.
Jawaban mereka cukup bervariasi, berikut dengan berbagai alasan untuk pembenaran perselingkuhan tersebut. Bahkan, dari jawaban dan alasan yang dikemukakan oleh wanita-wanita tersebut, dapat pula ditarik suatu kesimpulan, bahwa  perselingkuhan wanita dapat dibagi dalam tiga  tahap, yakni: Tahap pertama,  selingkuh pikiran; Tahap kedua,  selingkuh perasaan;  Dan tahap ketiga, selingkuh secara fisik.
Tahap pertama, wanita baru “mengagumi”  pria lain. Pada benak wanita ini, biasanya timbul kata-kata: “Mengandai-andai,  seandainya  pasangan aku seperti pria ini.”
Sepanjang intensitasnya tak terlalu sering, hal ini adalah suatu hal yang wajar. Hanya sebatas angan-angan. Dan dampak selingkuh jenis ini biasanya tak terlalu terasa oleh pasangannya. Sebab, sering kali tak dibicarakan pada pihak lain. Tapi, karena wanita ini sudah mulai  mendua dalam pikirannya,  maka bagi wanita yang kurang pengalaman dalam selingkuh, umumnya atensi, fokus dan perhatiannya terhadap pasangannya mulai berkurang. Tetapi bagi wanita yang sudah berpengalaman, malah akan berbuat sebaliknya, ia makin memperhatikan suaminya, sebagai upaya menutupi kesalahannya.
Seorang istri mengagumi orang lain adalah wajar, tapi bila dibiarkan, bukannya tak mungkin ia akan masuk ke tahap kedua, yakni tahap selingkuh perasanan.
Pada tahap kedua,  wanita itu sulit menghilangkan bayangan pria lain yang sudah dikenalnya, dan merasuk dalam pikirannya. Hal ini, bisanya menimbulkan masalah. Sebab, selain wanita itu membanding-bandingkan pasangannya dengan pria lain yang dikenalnya, hubungan ini bisa berlanjut dengan  rasa menyukai dan mencintai.
Perasaan deg-degan dan berbunga-bunga timbul, meski  hanya dengan melihat wajah atau sekedar mendengar suara pria lain tadi.   Wanita itu,  mulai mengadakan hubungan telepon dan SMS.  Bahkan, sering berlanjut dengan saling curhat-curhatan melalui chatting di internet. Lama-kelamaan janji ketemu, melanjutkan curhat-curhatan bukan lagi hanya melalui dunia maya, juga sudah di dunia nyata, seperti di kafe, restoran, bar dan tempat lainnya dengan pria lain.
Wanita yang semula sangat perhatian terhadap pasangannya, kini mulai memudar. Beberapa agenda keluarga mulai hilang. Misalnya, biasa setiap hari Minggu menyempatkan diri menemani pasangannya pergi ke gym, sekarang tak ada lagi. Dan ketika wanita ini keluar rumah, pasangannya sering tidak diberi tahu sedang berada di mana dia saat itu.
 Di sini mulai berlaku hukum sebab dan akibat. Ada sebab, pasti ada akibat. Tak mungkin wanita itu  berani berselingkuh, jika tak diawali suatu masalah. Mungkin saja, wanita itu tergolong orang yang takut berbicara secara terus terang kepada suaminya mengenai segala sesuatu dalam hubungan rumahtangga. Atau ia seorang wanita yang suka dipuji, tetapi karena suaminya sibuk, tidak memperoleh pujian itu dari suaminya. Mungkin pula sedang dalam fase “bosan,”  karena kurang perhatian dari suaminya, atau  sebab lainnya.
Perselingkuhan  perasaan seperti ini, banyak ditemukan dalam kehidupan wanita yang bersuami, seperti halnya Nani (32 tahun), wanita cantik, karyawati perusahaan  ternama di Jakarta. Sore itu, Nani bertemu dengan saya di kafe Carnation, hotel berbintang empat, di kawasan Jakarta Pusat (11/2009).
Menurut cerita Nani, dirinya sedang menunggu seorang pria di kafe itu, yang sebelumnya sudah janji di telepon untuk ketemu.  “Apa dia suami Anda?” tanya saya. Dengan malu-malu Nani menjawab, “Bukan, ia sekedar teman.”
Lalu Nani bercerita tentang kehidupan rumahtangganya, bahwa ia sudah kawin dengan seorang duda yang mempunyai seorang putri. Dan kini, ia dengan suaminya juga sudah  punya seorang putri.
Perkawinan Nani melalui proses pacaran, tetapi selama berpacaran itu, ia tidak tahu kalau pria itu sudah punya istri dan anak. Baru setelah mendekati hari perkawinannya, ia tahu bahwa calon suaminya itu sedang dalam proses cerai dengan istrinya.
Tapi, karena telah terlanjur cinta pada calon suaminya, hubungan tetap dilanjutkan. “Setelah ia cerai dengan istrinya, baru kami menikah,” tutur Nani. Lalu menambahkan, “Aku tidak memberitahukan kepada orangtuaku bahwa calon suamiku itu adalah duda yang baru cerai dengan istrinya. Kalau aku beritahu, pasti orangtuaku akan menyuruh aku memikirkannya lagi.”
“Kalau begitu kenapa Anda masih bikin janjian dengan pria lain?” tanya saya. “Ya sekadar curhat pak. Aku mengalami banyak masalah dalam rumahtanggaku. Suamiku yang dulu merupakan idolaku, kini  mulai membosankan. Perhatiannya terhadapku mulai berkurang,” jawab Nani.
“Apa sudah kontak fisik dengan teman Anda?” tanya saya lagi. “Belum pak, baru sebatas telepon-teleponan, SMS-SMS-an dan saling curhat,” ujarnya lagi. Nani kemudian minta pamit pindah meja, karena pria yang ditunggunya sudah datang.
Bila tahap seperti Nani ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa dicegah oleh pasangannya, maka tahap perselingkuhan bisa meningkat pada tahap ketiga.
Pada tahap ketiga ini,  wanita itu mulai melakukan kontak fisik dengan pria lain. Dimulai dengan cumbu rayu, berlanjut check in di hotel, lalu diikuti berhubungan intim. Kalau sampai tahap ketiga, kedua pasangan harus bersiap-siap menghadapi malapetaka menimpa rumahtangganya, seperti terjadi percecokan, pertengkaran, bahkan bisa berlanjut dengan perceraian.
Ketika kami tanya kepada 100 wanita yang pernah berselingkuh, “Apa perselingkuhan Anda selalu berakhir dengan hubungan seks?” Jawaban yang diberikan berbeda, 39% wanita menjawab “tidak,” dan 61% menjawab “ya.”
Ketika kami tanya, “Apa alasan Anda berselingkuh? Jawaban dari 100 wanita tersebut juga berbeda-beda yakni: 25% menjawab karena kurang keintiman, dan kurang puas dalam hubungan seks dengan suaminya;  23% karena keadaan ekonomi; 17% karena kesepian; 14% kurang mendapat perhatian dan kemesraan dari suaminya; 9% karena bosan dan  ingin mencari hal baru di luar rumah; 7% karena belas dendam terdap suami berselingkuh; dan 3% karena tidak mempunyai anak; kemudian 2% atau 2 wanita menjawab, berselingkuh karena terbiasa melakukan hubungan seks bebas.
***
Dalam berkomunikasi dengan PIL-nya (Pria Idaman Lain), wanita-wanita tersebut banyak menggunakan HP atau internet, dengan alasan lebih aman. Mereka menghindari memakai atau memberitahu PIL-nya  telepon rumah, dengan alasan takut diketahui oleh suami.
Bahkan, menurut Yenny (31 tahun), wanita cantik yang bekerja di sebuah perusahaan BUMN, sejak ia mempunyai PIL, ia menjadi lebih protektif terhadap ponselnya. Alasannya,  karena takut ketahuan suaminya. ”Kalau di rumah aku tidak bisa meletakan HP-ku sembarangan. HP disimpan dengan rapih di tas atau di lemari pribadiku,” ujarnya.
Wanita yang mempunyai PIL, umumnya selalu ingin tampil sempurna dan tampak cantik di hadapan orang yang sedang ia dekati atau untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Misalnya, seperti dengan Hellen (41), pengusaha yang sedang menanjak namanya.
Ketika ketemu di kantornya pagi itu, dandanan Hellen biasa saja, sopan dan berwibawa. Tapi, sore harinya, ketika bertemu kembali dengan saya di kafe Cherry Blossom,  sebuah kafe elit di sebuah gedung megah tingkat 35,  kawasan Jakarta Selatan, dandanannya tampil sangat beda. Penampilannya sore itu, membuat saya sedikit pangling. Ketika itu,  ia tampil mengenakan baju bermerk yang mempertunjukkan sex appeal yang menggairahkan.
“Apa tadi Anda sempat pulang berganti pakaian?” tanya saya, setelah dekat dengan Hellen. “Kenapa?” ujar  Hellen balik bertanya. “Anda terlihat cantik sekali,” jawab saya.
Hellen lalu menjelaskan, “Di mobilku itu,  selalu ada baju ganti. Jadi, kalau aku ada pertemuan dengan orang lain di luar kantor atau dengan PIL-ku, tidak susah bagiku berganti baju, tak perlu pulang ke rumah.”
“Apa suami Anda tahu?” tanya saya.
“Tahu, aku pernah menjelaskan kepada suamiku, bahwa pakaian yang di mobil adalah pakaian yang dipersiapkan kalau ada meeting  mendadak di luar kantor. Sebab, aku pengusaha, suamiku tidak begitu curiga,” jawab Hellen yang terlihat masih awet muda.
Wanita punya PIL,  dalam rumahtangga sering tidak fokus, baik  terhadap suami maupun anak-anaknya. Bagaimana bisa fokus, jika pikirannya sudah terbagi dua. Satu pihak memikirkan PIL-nya, dan satu pihak memikirkan suami dan anak-anaknya. Perhatian terhadap suami dan anak-anaknya mulai berkurang. Bahkan, anaknya sering ditelantarkan, sudah dianggap beban baginya.
Herawati (37), wanita cantik karyawan sebuah perusahan swasta ternama di Jakarta  bercerita, bahwa putrinya (4 tahun) tadi malam jatuh dan menderita luka, hanya gara-gara dia mendapat telepon dari PIL-nya.
“Ketika aku duduk di kursi ruang tamu bersama suamiku, putriku saat itu tiduran di pahaku. Tiba-tiba HP aku berdering, aku lihat dari PIL-ku. Karena takut ketahuan suami, aku langsung berdiri hendak masuk ke kamar, tanpa memperhatikan keadaan dan situasi sekelilingku.  Akibatnya ya fatal, putriku yang tadinya tidur nyenyak di pahaku, jadi jatuh terbanting. Kepalanya membentur meja dan mengeluarkan darah, langsung dibawa oleh suamiku ke klinik praktik dokter 24 jam,” ujar Herawati enteng tanpa merasa bersalah.
Wanita yang mempunyai PIL, umumnya berpura-pura sibuk untuk menghindar dari pasangannya. Mereka jadi seperti punya banyak kegiatan, dan sering menghilang dari  pasangannya dengan alasan sibuk. Dia mulai kehilangan waktu luang untuk bersama suami dan anak-anaknya, karena sebagian waktunya kini ia gunakan untuk bertemu dengan PIL-nya.
Judi, suami Elena (36 tahun) bercerita, “Semenjak istriku mendapat promosi jabatan di kantornya, aku jadi jarang ketemu dengannya,  karena alasan sibuk di kantor. Di rumah pun demikian, selalu ada saja yang ia kerjakan. Waktunya untuk rumahtangga sudah sangat terbatas. Tidak ada waktu luang lagi untuk bersantai berdua atau bersama putra dan putri kami seperti dulu.”
Saya sempat menanyakan kepada Elena tentang keluhan suaminya,  Elena dengan santai menjawab, “Itukan cuma alasan klasik pak, untuk bisa ketemu dengan PIL-ku,” tuturnya enteng.
***
Setiap hal yang buruk biasanya menagih, seperti  seorang yang korupsi di kantornya. Sekali korupsi ia lakukan, dia kepingin mengulangi lagi. Begitu pula dengan “selingkuh,”  juga bisa bikin ketagihan. Ketika  ia berselingkuh pertama kalinya masih diliputi rasa waswas dan ketakutan, tapi bila tidak ketahuan oleh suami, ia cenderung ingin mengulangi lagi.
Bahkan ada wanita, meski sudah ketahuan oleh suaminya bahwa  ia berselingkuh, kemudian ia pura-pura minta maaf. Setelah maafnya diterima oleh suami, dan rumahtangganya mulai tenang, di saat itu ia mencoba lagi untuk berselingkuh. Begitu seterusnya, tanpa wanita itu merasakan bagaimana sakit hati suaminya, ketika sang suami tahu atau mendapati orang disayanginya berselingkuh, seperti  dialami oleh Aditya (42 tahun), seorang pria yang cukup ganteng, karyawan sebuah bank ternama di Jakarta.
 Aditya bertemu dengan saya sore itu  (12/2009) di kafe Dauglas  kawasan Jakarta Barat. Ia bercerita, bahwa dirinya baru sebulan lalu cerai dengan istrinya Achie, karena Achie berselingkuh. Mendengar Adi bercerai dengan Achie, saya menjadi kaget dan tak percaya hal itu terjadi. Sebab, saya  melihat hubungan mereka  selama ini  cukup mesra, tanpa banyak masalah.
Usia pernikahan Adi dan Achie (32 tahun) sudah lebih dari lima tahun. Dari perkawinan itu, mereka  dikaruniai dua orang anak yang cantik dan lucu-lucu. Achie juga seorang wanita karier, dengan ijazah S1 yang dimilikinya, ia bekerja di salah satu perusahaan sebagai sekretaris direksi.
Adi bercerita: “hubungan kami selama lima tahun  perkawinan,  berlangsung biasa-biasa saja. Jarang bertengkar dan saling pengertian. Tapi belakangan ini, terlihat ada perubahan pada Achie, ia sering pulang telat, dengan alasan lembur. Dandanannya sudah mulai lain dari biasanya, dengan alasan ada meeting di luar kantor, dan ia perlu kelihatan lebih sempurna. Namun, sebagai seorang tamatan universitas luar negeri, aku tidak menghiraukan adanya perubahan pada istriku. Itu hak asasinya, tak perlu aku campuri.
Suatu hari, aku ditugaskan oleh perusahaanku untuk mengikuti seminar di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta. Dan  tugas seminar sehari itu tidak aku  beritahukan kepada istriku.
Selesai seminar hari sudah malam, aku bersiap-siap dan bergegas pulang untuk menemui istriku tercinta, beserta anak-anakku tersayang di rumah. Ketika aku sampai depan lift, aku lihat ada lift yang berhenti di lantai 8 menuju ke bawah. Tak lama lagi, lift itu sampai dilantaiku menunggu,  lantai 6.
Benar lift itu cukup patuh dengan tombol yang aku tekan, lift berhenti dan aku naik. Tapi baru melangkahkan kakiku ke dalam lift, aku mulai mencium suatu situasi yang tidak wajar. Alangkah kagetnya aku, dalam lift itu aku dapati istriku lagi berpegangan tangan  mesra dengan seorang pria lain, yang juga hendak turun. Barangkali  setelah check in dari hotel itu.
Aku lagi tidak emosi, aku berlagak tidak kenal dengan istriku sampai lift berada di lantai dasar. Tak ada keributan antara aku dan Achie di lift itu. Aku tidak mau mempermalukan Achie di depan pengunjung lainnya. “Ini persoalan keluarga, biar nanti di rumah diselesaikan,” pikirku. Namun, dalam mobil menuju pulang,  aku yang sendirian  mulai memikirkan istriku yang berselingkuh.
Sampai di rumah Achie menjelaskan kepadaku,  bahwa pria tadi adalah bosnya di  kantor. Achie juga memberikan berbagai alasan, lalu di akhiri dengan  permohonan  maaf. Namun, aku berhari-hari memikirkan mengapa  sampai hati istriku berselingkuh. Aku  mulai bertanya, apa yang salah dengan hubungan perkawinanku?
Setelah mencoba mencari jawaban yang rasional untuk menemukan ketenangan batin, maka pertanyaan yang muncul dan  menghantui pikiran aku makin bertambah: Apakah aku harus memaafkannya? Apakah ia akan bisa setia lagi, kalau ia dimaafkan? Atau  apakah ia akan berselingkuh lagi, kalau sudah dimaafkan? Dan bagaimana dengan nasib anak-anak kami yang masih kecil-kecil, bila kami bercerai?
Ketika itu masih ada rasa sayang terpendam di hatiku, walau rasa   hati yang tercabik-cabik belum hilang. Antara perasaan yang masih ingin bersama istriku dengan rasa harga diriku yang tak ingin kembali pada istriku, selalu berkecamuk dalam hatiku. 
Kemudian demi anak-anak, aku maafkan Achie. Namun aku makin hati-hati terhadap istriku, setiap saat aku perhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya. Aku makin banyak membaca buku tentang perkawinan dan rumahtangga. Aku paham sekali, memang tak mudah menghadapi pasangan yang pernah berselingkuh dari suaminya.  Aku juga mengerti, bahwa aku  bukan satu-satunya orang yang harus melewati ini sendirian, banyak suami di dunia mengalami hal yang sama.
Istriku memang tipe “player.” Kemungkinan setelah aku  memaafkannya, ia  kembali mengulang berselingkuh, masih ada. Tapi,  aku tidak mau gegabah mengambil keputusan cerai. 
Setiap hari aku perhatikan, tak ada rasa menyesal dari Achie terhadap perselingkuhan yang dilakukannya. Ia tak merasa bersalah atas perselingkuhan itu, ia selalu berdalih hubungan biasa antara bawahan dengan bosnya. Istriku tidak dapat memutuskan hubungan secara total dengan  bosnya, karena setiap hari ia bertemu di kantornya.
Ia tidak menunjukkan apresiasi dan kesetiaan yang baru kepadaku. Ia makin tertutup, malah lebih banyak menghindar kalau diajak bicara, dengan alasan bosan untuk membicarakan masalah itu lagi.
Aku ingin berbaik dengan Achie, dan meningkatkan hubungan ke arah yang lebih baik. Tapi, Achie sendiri sudah menjaga jarak. Tak terlihat dari Achie adanya usaha memperbaiki hubungan denganku. Buktinya,  ketika hubungan kami renggang diketahui ibunya, malah dia marah-marah padaku. Ia kira aku yang mengadu kepada ibunya. Padahal, yang bercerita tentang rumah tangga kami itu kepada ibunya,  adalah adiknya sendiri, yang sering datang ke rumah.
Tidak itu saja, berbulan-bulan aku perhatikan istriku, tampaknya tak ada perubahan. Ia  makin sering bekerja lembur dan pulang telat. Sering tiba-tiba ia harus bepergian tanpa mengikutsertakan aku. Sering ia menghabiskan waktu melakukan kegiatan yang ia senangi, tanpa adanya aku. Sering ada telepon-telepon misterius untuk istriku,  yang tiba-tiba ditutup. Aku sendiri menemukan hal-hal yang tak bisa dimengerti, seperti nota penginapan atau nota hadiah yang bukan untuk aku atau orang yang dikenal. Keintiman kami menurun, dan istriku  lebih mudah marah dan merasa tersinggung.
Suatu sore, aku menelepon istriku melalui HP-nya, ternyata HP-nya tidak aktif. Aku telepon ke kantornya, mendapat jawaban bahwa Achie tidak di kantor, dia lagi meeting dengan bosnya di luar kantor.
Sekitar pukul 23.00 (malam) Achie baru sampai di rumah, aku tanya, “Kamu dari mana?” malah dia marah-marah, dengan mulutnya berbau alkohol.
Aku mulai diam, tapi sejak itulah dalam rumah tangga kami terjadi perang dingin selama  hampir enam bulan, dan berakhir dengan rasa pahit mendalam. Sebulan yang lalu di pengadilan agama, kami resmi cerai,  tutur Adi mengakhiri ceritanya.SELANJUTNYA DAPAT DIBACA PADA BUKU: "WANITA-WANITA SELINGKUH", YANG DAPAT DIPEROLEH DI TOKO-TOKO BUKU GUNUNG AGUNG 7 GRAMEDIA*******

Jumat, 21 Oktober 2011

Mitos Keturunan Iskandar Zulkarnain Dari Gujarad



 
Poortman, seorang ahli sejarah asal Belanda, selain melakukan penelitian lapangan dan pencarian fakta tentang Ekspedisi Pamalayu tentara Singasari (1275 – 1292) merebut Darmasraya Jambi, ia juga  melakukan  Survei tentang  kuburan Islam di rimba-raya Minangkabau Timur, dan Survei tentang Mitos Dinasti Iskandar Zulkarnain di Minangkabau. Padahal, menurut fakta sejarah, Iskandar Zulkarnain adalah Alexander The Great, yang memerintah 336 – 323 Sebelum Masehi, Raja Yunani Macedonia yang merebut Persia, Gandara, Gujarat, tapi  tidak pernah merebut Alam Minangkabau.
Posisi Poortman sama dengan Snouck Hurgronje. Snouck adalah seorang ahli Aceh, yang informasinya diminta oleh pemerintah Belanda. Sedangkan Poortman adalah seorang ahli Batak, yang informasinya juga diminta oleh pemerintah Belanda.  Poortman pensiun pada tahun 1930 dan kembali ke Belanda.
Teman sejawatnya,  Louis Constant Westenenk, pada tahun 1915 menjadi residen Benkoelen dan anggota Volksraad (parlemen Hindia-Belanda). Lima tahun kemudian, diangkat sebagai residen di Palembang, dan setahun setelah itu menjadi Gubernur Pesisir Barat Sumatera. Pada tahun 1921, Westenenk berhasil menulis buku bukan untuk umum “De Hindu Javanen In Midden En Zuid Sumatra.”
Ketika Poortman diminta oleh teman sejawatnya,  Westenenk untuk penelitian tentang Mitos  Dinasti Iskandar Zulkarnain di Minangkabau, Poortman kebetulan sudah terlebih dulu menemukan di dalam tulisan-tulisan peninggalan kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah  (976 – 1168), bahwa di jazirah Gujarat India, hampir semuanya orang Islam mazhab Syi’ah mengaku keturunan Alexander The Great, yang di situ disebutkan “Iskandar Zulkarnain.” Poortman segera mencurigai orang-orang Cambay Gujarat, yang sebelum 1350 datang berdagang ke Minangkabau dan di situ menjadi asal dari mitos keturunan dinasti Iskandar Zulkarnain.
Poortman kemudian bertahun-tahun lamanya melakukan pekerjaan “detektif sejarah,” meneliti tulisan peninggalan kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah, kesultanan Mesir Dinasti Mamaluk, kesultanan Aru Barumun, kesultanan Allahabad India (yang menguasai jazirah Gujarat sesudah kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah  dan sebelum Kesultanan Dehli India), Dinasti Yuang dan Dinasti Ming Tiongkok serta tulisan-tulisan lainnya.
Dari tulisan tangan yang ada di perpustakaan “Adjaib Ghur” (museum di Lahore), di dalam tulisan peninggalan kesultanan Allahabad, Poortman “menemukan” Sultan Daya Pasai yang pertama, bernama Djohan Djani.
Setelah menemukan itu, Poortman melakukan penelitian lapangan dengan  berjalan kaki di daerah-daerah hulu Sungai Batanghari, Kuantan, dan Kampar, daerah-daerah yang oleh Westenenk disebutkan: “Waarmensch en tijger buren zijn.” (Manusia dan harimau bertetangga). Poortman berhasil mengetahui tentang Sultan Djohan Djani, seorang bajak laut yang canggih,  dan tentang  Sultan Malik Ul Mansur, seorang pemalsu sejarah.
Sultan Djohan Djani, lahir di Combay Gujarat. Ayahnya orang Persia, ibunya orang Punjabi. Mereka sudah turun temurun beragama Islam mazhab Syi’ah, dan katanya, berasal dari keturunan  Iskandar Zulkarnain. 
Menurut Poortman, setiap pengemis pun di jazirah Gujarat, katanya mengaku keturunan dari Iskandar Zulkarnain,  yang 1.500 tahun sebelumnya sangat aktif membikin puas dan bangga entah ribuan wanita Persia, Punjabi dan Gujarat. Di daerah tersebut, berjuta-juta orang yang katanya mengaku keturunan dari Iskandar Zulkarnain.
Djohan Djani menjadi pelaut di Cambay Gujarat, turut belajar dengan kapal-kapal dagang antara Zanzibar dan Daya Pasai. Djohan Djani naik manjadi kapten kapal perang di kesjahbandaran Daya Pasai. Di Daya Pasai (1168 – 1204 M)  memerintah Laksamana Kafrawi Al Kamil, sudah  lepas dari kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah yang sudah musnah.
Kapten Djohan Djani berkhianat terhadap Laksamana Kafrawi Al Kamil, yang sudah tua. Ia mengangkat dirinya sendiri menjadi Laksamana Djohan Djani, dan menjadi  bajak laut di Pulau Weh.
Di muara Sungai Aceh sudah terlebih dahulu bersarang seorang bekas bawahan dari Laksamana Kafrawi Al Kamil, yang juga sudah menjadi bajak laut, yakni  Laksamana Djohan Ramni. Terjadilah rebutan daerah kekuasaan dan peperangan antara dua orang Laksamana yang  bernama “Djohan.”
Laksamana Djohan Djoni, kemudian punya ide gemilang, bahwa dia akan lebih mudah menyerang  Laksamana Kafrawi Al Kamil, yang bertambah tua dan menguasai daerah muara Sungai Pasai,  daripada dia terpaksa terus menerus bertahan terhadap serangan dari Laksamana Djohan Ramni dari muara Sungai Aceh.
Pada tahun 602 H (1204 M), Laksamana Djohan Djani merebut daerah sekitar muara Sungai Pasai. Laksamana Kafrawi Al Kamil mati dibunuh. Laksamana Djohan Djani mengangkat dirinya menjadi Sultan Daya Pasai yang pertama. Di situlah pertama kali seorang yang katanya keturunan dari Iskandar Zulkarnain, menjadi sultan (raja Islam) di Kepulauan Nusantara.
Westenenk menantang Poortman, untuk membuktikan bagaimana caranya “Mitos Dinasti Iskandar Zulkarnain,” dari Daya Pasai masuk di pedalaman Minangkabau? Yang begitu jauh dari laut, sebelum Adityawarman mendirikan kerajaan Pagaruyung.
Poortman berusaha menjawab tantangan rekannya Westenenk. Ia mulai penelitian dari kesultanan Kuntu Kumpar. Dan ia melihat  kesultanan Kuntu Kumpar (1301 – 1339) di Minangkabau Timur,  sama saja seperti Prof. DR. Sigmund Freud di Wina Austria, yang menyelidiki “The Interpretations Of Dreams” (tafsiran mimpi) yang tersandung pada  “Psycho Analyse Of Minority Complexes.”
Sumber penelitian Poortman tidak berubah, ia tetap mengaitkan daerah Kuntu Kumpar sebagai penghasil merica terpenting di dunia, yang menjadi rebutan di antara kesultanan Islam:  Daya Pasai, Sumadera Pasai dan  Aru Barumun.
Dari hasil penelitiannya, Poortman antara lain berkesimpulan: Pertama, pada tahun 1285, Kesultanan Daya Pasai (bermazhab Syi’ah) berakhir, diganti oleh kesultanan Sumadera Pasai (1285 – 1522), yang bermazhab Syafi’i.
Kedua, Setelah Sultan Sumadera Pasai pertama, Sultan Malik Us Saleh (1285 – 1296) meninggal, ia digantikan oleh putranya Sultan Malik Ut Tahir (1296 – 1327). Seorang lagi Putra dari Sultan Malik Us Saleh,  yakni Pangeran Malik Ul Mansur, sejak tahun 1295 secara de-facto sudah berkuasa di daerah sekitar muara Sungai Barumun. Dia nikah dengan seorang cucu dari Sultan Bahaudin Al Kamil, yakni Putri Nur Alam Kumalasari. Pangeran Malik Ul Mansur membangkang dalam agama Islam mazhab Syafi’i, dan dia mendirikan kesultanan Aru Barumun (bermazhab Syi’ah)  pada tahun 1299.
Perang saudara antara kesultanan Sumadera Pasai melawan kesultanan Aru Barumun sangat berbahaya, karena masih sangat banyak orang-orang Gujarat India yang ingin menjadi Sultan Daya Pasai yang ketudjuh. Sultan Malik Ut Tahir berdamai dengan saudaranya Sultan Malik Ul Mansur.
Ketiga, Sultan Malik Ul Mansur (Sultan Aru Barumun yang pertama), lahir Islam, walaupun ayahnya (Sultan Malik Us Saleh lahir di Pagan-Pagan Batak Karo).  Ibunya adalah Putri Ganggang Sari seorang Putri Persia dari kesultanan Perlak, dan isterinya adalah Putri Nur Alam Kumalasari seorang Putri dari  Dinasti Al Kamil. Tapi Sultan Malik Ul Mansur  malu mengaku keturunan dari Batak Gajo. Karena itulah Sultan Malik Ul Mansur mengadakan pemalsuan sejarah, yang di dalam sejarah Indonesia, cuma ada taranya di dalam Babad Jawi, yakni perihal keturunan dari Kiai Gede Pamanahan.
Sultan Malik Ul Mansur menjungkir balikkan sejarah. Ia mengaku bahwa ayahnya  Sultan Malik Us Saleh (Iskandar Malik=Marah Silu) sebenarnya adalah putra dari Sultan Ibrahim Djohan Djani (Sultan Daya Pasai yang pertama), bukan keturunan Batak Gajo. Selanjutnya, lewat Sultan Djohan Djani, Sultan Malik Ul Mansur katanya adalah keturunan dari Iskandar Zulkarnain .
Keempat, Pada tahun 1301, tentara kesultanan Aru Barumun merebut daerah Kuntu Kampar dari tangan tentara Singasari, yang ketinggalan di situ. Setelah itu, kesultanan Aru Barumun mendirikan kesultanan Kuntu Kampar, berupa vasal Sultan atau bawahan kesultanan Aru Barumun.
Kelima, Sultan Said Amanullah Perkasa Alam (tituler Sultan Kuntu Kampar yang pertama) adalah seorang putra dari Sultan Malik Ul Mansur. Dia sangat sombong, dan sangat parah menindas penduduk asli Minangkabau. Lebih parah lagi daripada ayahnya, dia tidak mau mengakui keturunan bahwa dia  dari orang Batak Gajo, tapi dari Dinasti Iskandar Zulkarnain.  Kemudian, Sultan Said Amanullah Perkasa Alam menerapkan “Mitos Dinasti Iskandar Zulkarnain” di Alam Minangkabau, demikian menurut Poortman.Selanjutnya dapat dibaca pada Buku: MINANGKABAU DARI DINASTI ISKANDAR ZULKARNAIN SAMPAI TUANKU IMAM BONJOL, YANG DAPAT DIPEROLEH DI TOKO BUKU GRAMEDIA

Mitos Keturunan Iskandar Zulkarnain Dari Gujarad


Poortman, seorang ahli sejarah asal Belanda, selain melakukan penelitian lapangan dan pencarian fakta tentang Ekspedisi Pamalayu tentara Singasari (1275 – 1292) merebut Darmasraya Jambi, ia juga  melakukan  Survei tentang  kuburan Islam di rimba-raya Minangkabau Timur, dan Survei tentang Mitos Dinasti Iskandar Zulkarnain di Minangkabau. Padahal, menurut fakta sejarah, Iskandar Zulkarnain adalah Alexander The Great, yang memerintah 336 – 323 Sebelum Masehi, Raja Yunani Macedonia yang merebut Persia, Gandara, Gujarat, tapi  tidak pernah merebut Alam Minangkabau.
Posisi Poortman sama dengan Snouck Hurgronje. Snouck adalah seorang ahli Aceh, yang informasinya diminta oleh pemerintah Belanda. Sedangkan Poortman adalah seorang ahli Batak, yang informasinya juga diminta oleh pemerintah Belanda.  Poortman pensiun pada tahun 1930 dan kembali ke Belanda.
Teman sejawatnya,  Louis Constant Westenenk, pada tahun 1915 menjadi residen Benkoelen dan anggota Volksraad (parlemen Hindia-Belanda). Lima tahun kemudian, diangkat sebagai residen di Palembang, dan setahun setelah itu menjadi Gubernur Pesisir Barat Sumatera. Pada tahun 1921, Westenenk berhasil menulis buku bukan untuk umum “De Hindu Javanen In Midden En Zuid Sumatra.”
Ketika Poortman diminta oleh teman sejawatnya,  Westenenk untuk penelitian tentang Mitos  Dinasti Iskandar Zulkarnain di Minangkabau, Poortman kebetulan sudah terlebih dulu menemukan di dalam tulisan-tulisan peninggalan kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah  (976 – 1168), bahwa di jazirah Gujarat India, hampir semuanya orang Islam mazhab Syi’ah mengaku keturunan Alexander The Great, yang di situ disebutkan “Iskandar Zulkarnain.” Poortman segera mencurigai orang-orang Cambay Gujarat, yang sebelum 1350 datang berdagang ke Minangkabau dan di situ menjadi asal dari mitos keturunan dinasti Iskandar Zulkarnain.
Poortman kemudian bertahun-tahun lamanya melakukan pekerjaan “detektif sejarah,” meneliti tulisan peninggalan kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah, kesultanan Mesir Dinasti Mamaluk, kesultanan Aru Barumun, kesultanan Allahabad India (yang menguasai jazirah Gujarat sesudah kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah  dan sebelum Kesultanan Dehli India), Dinasti Yuang dan Dinasti Ming Tiongkok serta tulisan-tulisan lainnya.
Dari tulisan tangan yang ada di perpustakaan “Adjaib Ghur” (museum di Lahore), di dalam tulisan peninggalan kesultanan Allahabad, Poortman “menemukan” Sultan Daya Pasai yang pertama, bernama Djohan Djani.
Setelah menemukan itu, Poortman melakukan penelitian lapangan dengan  berjalan kaki di daerah-daerah hulu Sungai Batanghari, Kuantan, dan Kampar, daerah-daerah yang oleh Westenenk disebutkan: “Waarmensch en tijger buren zijn.” (Manusia dan harimau bertetangga). Poortman berhasil mengetahui tentang Sultan Djohan Djani, seorang bajak laut yang canggih,  dan tentang  Sultan Malik Ul Mansur, seorang pemalsu sejarah.
Sultan Djohan Djani, lahir di Combay Gujarat. Ayahnya orang Persia, ibunya orang Punjabi. Mereka sudah turun temurun beragama Islam mazhab Syi’ah, dan katanya, berasal dari keturunan  Iskandar Zulkarnain. 
Menurut Poortman, setiap pengemis pun di jazirah Gujarat, katanya mengaku keturunan dari Iskandar Zulkarnain,  yang 1.500 tahun sebelumnya sangat aktif membikin puas dan bangga entah ribuan wanita Persia, Punjabi dan Gujarat. Di daerah tersebut, berjuta-juta orang yang katanya mengaku keturunan dari Iskandar Zulkarnain.
Djohan Djani menjadi pelaut di Cambay Gujarat, turut belajar dengan kapal-kapal dagang antara Zanzibar dan Daya Pasai. Djohan Djani naik manjadi kapten kapal perang di kesjahbandaran Daya Pasai. Di Daya Pasai (1168 – 1204 M)  memerintah Laksamana Kafrawi Al Kamil, sudah  lepas dari kesultanan Mesir Dinasti Fathimiyah yang sudah musnah.
Kapten Djohan Djani berkhianat terhadap Laksamana Kafrawi Al Kamil, yang sudah tua. Ia mengangkat dirinya sendiri menjadi Laksamana Djohan Djani, dan menjadi  bajak laut di Pulau Weh.
Di muara Sungai Aceh sudah terlebih dahulu bersarang seorang bekas bawahan dari Laksamana Kafrawi Al Kamil, yang juga sudah menjadi bajak laut, yakni  Laksamana Djohan Ramni. Terjadilah rebutan daerah kekuasaan dan peperangan antara dua orang Laksamana yang  bernama “Djohan.”
Laksamana Djohan Djoni, kemudian punya ide gemilang, bahwa dia akan lebih mudah menyerang  Laksamana Kafrawi Al Kamil, yang bertambah tua dan menguasai daerah muara Sungai Pasai,  daripada dia terpaksa terus menerus bertahan terhadap serangan dari Laksamana Djohan Ramni dari muara Sungai Aceh.
Pada tahun 602 H (1204 M), Laksamana Djohan Djani merebut daerah sekitar muara Sungai Pasai. Laksamana Kafrawi Al Kamil mati dibunuh. Laksamana Djohan Djani mengangkat dirinya menjadi Sultan Daya Pasai yang pertama. Di situlah pertama kali seorang yang katanya keturunan dari Iskandar Zulkarnain, menjadi sultan (raja Islam) di Kepulauan Nusantara.
Westenenk menantang Poortman, untuk membuktikan bagaimana caranya “Mitos Dinasti Iskandar Zulkarnain,” dari Daya Pasai masuk di pedalaman Minangkabau? Yang begitu jauh dari laut, sebelum Adityawarman mendirikan kerajaan Pagaruyung.
Poortman berusaha menjawab tantangan rekannya Westenenk. Ia mulai penelitian dari kesultanan Kuntu Kumpar. Dan ia melihat  kesultanan Kuntu Kumpar (1301 – 1339) di Minangkabau Timur,  sama saja seperti Prof. DR. Sigmund Freud di Wina Austria, yang menyelidiki “The Interpretations Of Dreams” (tafsiran mimpi) yang tersandung pada  “Psycho Analyse Of Minority Complexes.”
Sumber penelitian Poortman tidak berubah, ia tetap mengaitkan daerah Kuntu Kumpar sebagai penghasil merica terpenting di dunia, yang menjadi rebutan di antara kesultanan Islam:  Daya Pasai, Sumadera Pasai dan  Aru Barumun.
Dari hasil penelitiannya, Poortman antara lain berkesimpulan: Pertama, pada tahun 1285, Kesultanan Daya Pasai (bermazhab Syi’ah) berakhir, diganti oleh kesultanan Sumadera Pasai (1285 – 1522), yang bermazhab Syafi’i.
Kedua, Setelah Sultan Sumadera Pasai pertama, Sultan Malik Us Saleh (1285 – 1296) meninggal, ia digantikan oleh putranya Sultan Malik Ut Tahir (1296 – 1327). Seorang lagi Putra dari Sultan Malik Us Saleh,  yakni Pangeran Malik Ul Mansur, sejak tahun 1295 secara de-facto sudah berkuasa di daerah sekitar muara Sungai Barumun. Dia nikah dengan seorang cucu dari Sultan Bahaudin Al Kamil, yakni Putri Nur Alam Kumalasari. Pangeran Malik Ul Mansur membangkang dalam agama Islam mazhab Syafi’i, dan dia mendirikan kesultanan Aru Barumun (bermazhab Syi’ah)  pada tahun 1299.
Perang saudara antara kesultanan Sumadera Pasai melawan kesultanan Aru Barumun sangat berbahaya, karena masih sangat banyak orang-orang Gujarat India yang ingin menjadi Sultan Daya Pasai yang ketudjuh. Sultan Malik Ut Tahir berdamai dengan saudaranya Sultan Malik Ul Mansur.
Ketiga, Sultan Malik Ul Mansur (Sultan Aru Barumun yang pertama), lahir Islam, walaupun ayahnya (Sultan Malik Us Saleh lahir di Pagan-Pagan Batak Karo).  Ibunya adalah Putri Ganggang Sari seorang Putri Persia dari kesultanan Perlak, dan isterinya adalah Putri Nur Alam Kumalasari seorang Putri dari  Dinasti Al Kamil. Tapi Sultan Malik Ul Mansur  malu mengaku keturunan dari Batak Gajo. Karena itulah Sultan Malik Ul Mansur mengadakan pemalsuan sejarah, yang di dalam sejarah Indonesia, cuma ada taranya di dalam Babad Jawi, yakni perihal keturunan dari Kiai Gede Pamanahan.
Sultan Malik Ul Mansur menjungkir balikkan sejarah. Ia mengaku bahwa ayahnya  Sultan Malik Us Saleh (Iskandar Malik=Marah Silu) sebenarnya adalah putra dari Sultan Ibrahim Djohan Djani (Sultan Daya Pasai yang pertama), bukan keturunan Batak Gajo. Selanjutnya, lewat Sultan Djohan Djani, Sultan Malik Ul Mansur katanya adalah keturunan dari Iskandar Zulkarnain .
Keempat, Pada tahun 1301, tentara kesultanan Aru Barumun merebut daerah Kuntu Kampar dari tangan tentara Singasari, yang ketinggalan di situ. Setelah itu, kesultanan Aru Barumun mendirikan kesultanan Kuntu Kampar, berupa vasal Sultan atau bawahan kesultanan Aru Barumun.
Kelima, Sultan Said Amanullah Perkasa Alam (tituler Sultan Kuntu Kampar yang pertama) adalah seorang putra dari Sultan Malik Ul Mansur. Dia sangat sombong, dan sangat parah menindas penduduk asli Minangkabau. Lebih parah lagi daripada ayahnya, dia tidak mau mengakui keturunan bahwa dia  dari orang Batak Gajo, tapi dari Dinasti Iskandar Zulkarnain.  Kemudian, Sultan Said Amanullah Perkasa Alam menerapkan “Mitos Dinasti Iskandar Zulkarnain” di Alam Minangkabau, demikian menurut Poortman.

Kamis, 20 Oktober 2011

CEWEK-CEWEK GAUL SEKOLAHAN



Diperkosa Sopir  Mobil Omprengan

Pemerkosaan sesungguhnya meliputi dua jenis kejahatan yang berbeda, yakni: “kejahatan nafsu berahi” dan “kejahatan dengan kekerasan,  dan seks dijadikan senjatanya”.
Pemerkosaan tidak  semata-mata disebabkan oleh dorongan nafsu berahi yang tidak terkontrol. Tapi, para ahli juga menilai bahwa banyak perkosaan terjadi, justru karena nafsu untuk menghina, untuk membalas dendam, atau untuk merasa “berhasrat” dan superior. Disini, rangsangan nafsu berahi justru tergantung pada perilaku kekerasan yang menyertainya.
Pemerkosaan bukan merupakan hal baru di jaman ini, masalah ini telah eksis dan akan terus eksis jika tidak dihadapi dan diselesaikan secara tuntas.
Bila kita pernah bergaul dengan wanita-wanita yang pernah menjadi korban kekerasan seksual atau pemerkosaan, niscaya kita dapat melihat dengan jelas betapa dampak-dampak merusak dari pengalaman buruk mereka itu, telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan mereka.
Sebagai contoh, dibawah ini saya ceritakan kembali hasil rekaman wawancara kami dengan salah seorang cewek gaul, ketika dia menjadi korban pemerkosaan.
***
Pada suatu sore  (10/2008), saya dan teman-teman: Bambang, Eka, Chenny  dan Anca,  bertemu dengan Linda di salon Rose Hips di kawasan Jakarta Utara. “Erlinda”, dengan nama panggilan “Linda”, seorang cewek cantik dan lumayan manis, berusia 17 jalan 18 tahun, masih bersekolah di salah satu SLTA di Jakarta, dan bekerja di salon itu seusai sekolah sampai malam.
Linda bercerita, Aku sejak berusia 16 tahun sudah tidak perawan lagi, aku diperkosa oleh orang yang tidak aku kenal. Ketika itu aku dari Jawa datang ke Jakarta untuk menemui orangtuaku. Aku dan nenek naik bus, turun di terminal Pulo Gadung, hari sudah malam. Bus kota yang menuju kearah rumah orangtuaku di Tanjung Priok  sudah tidak ada.
 Tiba-tiba datang mobil omprengan, keneknya turun menghampiri aku dengan nenek, dan menanyakan kami mau kemana. Setelah di jawab nenek, mau ke Tanjung Priok,  kami dipersilahkan naik. Mulanya nenek ragu, tapi sopir mobil omprengan itu berjanji kepada nenek, bahwa ia akan mengantar kami sampai ke rumah orangtuaku.
Dengan sedikit curiga, aku dan nenek naik mobil omprengan itu. Dikala mobil sudah jalan, hanya aku dengan nenek penumpangnya.
Mobil melaju dengan kencang, ke luar dari terminal Pulo Gadung, di perapatan Cempaka Putih belok kanan, terus melaju, dan kira-kira dua puluh menit jalan, tiba-tiba mobil itu berhenti.  Kata sopirnya,  “Mobil itu panas, dan perlu air untuk mengisi rediatornya”.
Tempat itu cukup sepi, tempat penjual bunga dan tanaman di pinggir jalan. Lama sopir dan kenek itu terlihat berbisik-bisik berunding, lalu sopir itu mengajak aku turun setengah paksa. Katanya,  “Mencari air, sekalian beli minuman”. Sedangkan nenek tetap berada di mobil bersama kenek. Dilarang turun, dipegangi dan ditakut-takuti oleh kenek.
Ketika sampai di gubuk penjual tanaman, sopir itu berhenti, secara paksa ia melepas celana dalamku, aku berteriak, mulutku dibekapnya. Aku melawan, tapi aku diancam akan dibunuh, sembari sopir itu memegang batang leherku.
Aku benar-benar tidak berdaya, sopir itu seperti kesetanan, tanpa merasa iba dan kasihan mendengar rintihan kesakitanku. Darah keluar dari vaginaku tak ia pedulikan, setelah ia puas, ia biarkan aku tergeletak disana, lalu ia pergi.
Nenek diturunkan pula di tempat itu, dan nenek berhasil menemui aku. Nenek menangis, aku sudah lama menangis. Nenek membersihkan tubuhku, merapikan pakaianku, lalu kami tinggalkan tempat neraka itu dengan jalan kaki tanpa tujuan di malam naas itu.
Kami masih punya uang, karena sopir dan kenek itu tidak mengambil satupun barang-barang bawaan kami, kecuali keperawananku secara paksa. Dalam kesusahan itu, kami pun masih sempat bersyukur, karena barang-barang dan uang kami masih utuh.
Baru setelah pagi datang, nenek tahu arah dimana kami berada. Aku sendiri tak dapat membantu nenek, karena aku baru kali ini datang ke Jakarta. Nenek memberhentikan sebuah bajai, dan nenek memperlihatkan catatan alamat orangtuaku, dengan membayar Rp. 10 ribu, sopir bajai itu mengantar kami sampai gang masuk rumah orangtuaku.
Sebelum aku sampai di rumah orangtuaku, nenek berpesan kepadaku, jangan menceritakan musibah yang sudah menimpaku kepada ibu dan bapakku. “Jangan menambah kesusahan orangtuamu, dengan cerita-cerita yang menambah beban pikirannya”, nasihat nenek. Dan nasihat nenek itu aku pegang teguh, sampai waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada kedua orangtuaku.
Setelah peristiwa itu, seusai sekolah di kawasan Tanjung Priok, hampir setiap hari sampai jauh malam aku berada di terminal bus Pulo Gadung, untuk membekuk sendiri mobil omprengan itu. Baru setelah ibuku menasihati, jangan sering malam-malam berada di terminal itu, dengan alasan banyak wanita tunasusila dan orang mabuk, baru aku menghentikan usahaku untuk membekuk sopir durjana itu. Namun dedamku kepada sopir itu tak kunjung padam, setiap sesusai shalat, aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar sopir itu mendapat balasan yang setimpal dan dilaknatNya.
SELENGKAPNYA DAPAT DIBACA PADA BUKU: CEWEK-CEWEK GAUL SEKOLAHAN, dan bisa didapat di Toko Buku Gunung Agung

Rabu, 19 Oktober 2011

WANITA-WANITA SELINGKUH



BRONDONG 
DIJADIKAN SELINGKUHAN

Dalam bahasa gaul,  kata  “brondong,” artinya jagung muda alias pop corn, mengalami perubahan makna.  Dalam istilah seksual, “brondong” dipakai sebagai sebutan pengganti ABG untuk pria muda berusia sekitar 16-20 tahun. Tapi, bagi pria berusia antara 20–30 tahun, juga masih dianggap brondong.
Pada awal 70-an, ketika saya menemani seorang teman mengadakan penelitian di lapangan tentang homoseksual untuk penyusunan tesisnya mendapatkan gelar Doktor di bidang psikologi di Jakarta,  kata “brondong” atau “jagung muda” (sebutan bagi pria muda), sudah mulai beredar di kalangan waria. Mereka mengkiaskan “tongkol jagung” untuk alat kelamin pria. Sedangkan “rasa gurih” jagung muda, diibaratkan kenikmatan yang akan diperoleh dari pria muda.
Sedangkan istilah umum yang berkembang di masyarakat ketika itu, adalah “daun muda,” sebutan ditujukan pada pria atau wanita berusia  muda. Istilah ini, biasanya ditujukan pada mereka yang dijadikan sebagai pacar gelap, istri muda atau istri simpanan, bahkan untuk wanita muda sebagai pemuas nafsu.
Sekarang, istilah daun muda mulai menghilang,  digantikan dengan kata “brondong” untuk pria, dan ABG untuk wanita. Hal ini adalah wajar dalam bahasa gaul, yang sifatnya sementara. Nanti, kalau ada “kata pengganti lain,” maka kata yang mulanya lagi trend, menjadi surut lalu  akan hilang sendiri dari peredaran, seperti dialami oleh kata “daun muda.”
Ada suatu “mitos” yang beredar di kalangan masyarakat dari zaman dulu sampai sekarang mengenai brondong. Mitos ini, belum pernah dibuktikan kebenarannya, bahwaApabila seorang wanita setengah tua, berhubungan seks dengan pria muda, dia akan menjadi awet muda.”  
Bahkan, ada mitos lebih ekstrim lagi, yang mengatakan, “Bila seorang wanita setengah tua, berhubungan seks dengan pejaka dan sempat menelan air mani pertama perjaka tersebut, dia akan lebih awet muda, kembali seperti usia pejaka tersebut. Sebaliknya, si pejaka akan kelihatan lebih tua, seperti usia wanita pertama yang mengajaknya berhubungan intim.”
Benar atau tidak mitos-mitos tersebut, memang tak perlu dipersoalkan. Tapi, yang jelas dari dulu sampai sekarang, percaya atau tidak percaya, ternyata banyak wanita setengah tua berusaha menikah dan berhubungan seks dengan pria muda, yang jauh lebih kecil usianya,  seusia anak atau cucunya.
Hal ini didukung oleh pendapat Sigmund Freud, ahli Psycho Sexual. Dalam teorinya yang memaparkan soal Oedipus Complex untuk pria yang menyukai wanita yang lebih tua. Sedangkan wanita muda yang menyukai tipe pria tua dikenal sebagai Electra Complex,  merupakan salah satu teori dari Carl Jung yang turut melengkapi teorinya Freud tadi.
Jadi, kita tidak perlu kaget dan bertanya, bila ada  keintiman antara wanita setengah tua dengan pria muda. Sebaliknya, antara wanita muda dengan pria tua. Seperti halnya dengan keintiman hubungan beberapa bintang top dunia atau selebriti di atas usia 40-an dengan kekasihnya yang muda belia.
Madonna (50 tahun), misalnya,  yang baru bercerai dari suaminya (2009), tampak membina kedekatan dengan model Brazil Jesus Luz yang masih berusia 22 tahun. Madona tidak bisa membantah kedekatannya itu, karena telah  banyak beredar foto bugilnya bersama pria tersebut di internet.
Madonna pertama kali berkenalan dengan Luz di penghujung tahun lalu. Pertemuan itu berlanjut serius saat Madonna meminta model itu menemaninya dalam konser di Amerika Selatan, Sticky & Sweet Tour.
Pertanyaan banyak muncul sampai kini, berapa lama Luz dapat mempertahankan hubungannya dengan Madonna? Hanya yang jelas, sejak memiliki kedekatan dengan wanita yang usianya 4 tahun lebih tua dari usia ibunya, Luz mengalami kegemilangan karir di dunia model.
Sama halnya dengan artis terkenal Demi Moore, yang membangun rumahtangganya  dengan Ashton Kutcher yang berselisih usia 16 tahun lebih muda, yang selalu dijadikan ikon sukses bersuami brondong. Meski perempuan berusia 47 tahun itu tak tahu mengapa ia yang dijadikan contoh sukses, karena Demi Moore bukan orang pertama yang menjalin hubungan dengan pria lebih muda, tapi dialah yang dinobatkan sebagai ikon.
Begitu pula dengan milyarder Amerika Serikat,  Donald Trump, yang menjalin hubungan dengan wanita muda,  akhirnya menikah dengan Melania Knauss yang 24 tahun lebih muda darinya.
***
Tidak hanya di Amerika Serikat, di negara-negara lain di dunia, banyak wanita  setengah tua  yang memilih menikah, berhubungan seks, dan berselingkuh dengan anak-anak muda. Bahkan di Indonesia, banyak pula artis setengah tua,  yang sudah punya anak atau cucu, memilih menikah, berselingkuh atau berhubungan seks  dengan pria yang lebih muda.
Tidak hanya di kalangan artis, kini pria muda usia atau  brondong lagi ngetrend di kalangan wanita setengah tua. Apakah karena kuatnya pengaruh mitos bahwa wanita tua atau setengah tua tersebut kalau “banyak makan brondong akan tetap awet muda?” Hal itu belum dapat dibuktikan secara nyata. Tapi yang jelas, memang terlihat banyak wanita setengah tua yang mengejar pria usia muda, baik yang profesional (gigolo) atau masih amatiran seperti brondong. Walau untuk itu, sang wanita perlu mengeluarkan uang cukup banyak untuk mendapatkannya.
Seperti halnya Lusiana atau dipanggil dengan tante Lusi (49 tahun). Seorang ibu dan  pengusaha,  yang mempunyai seorang putra dan seorang putri. Masih cantik, dan terikat dalam satu perkawinan dengan suaminya sebagai karyawan top  di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.  Dari ceritanya, tante Lusi mempunyai pengalaman yang cukup banyak dengan pria muda.
Teman saya Martha sempat bertemu dengan Lusiana di kafe Banksia (02/2009) di sebuah hotel berbintang lima di kawasan Jakarta Pusat. Lusiana yang sudah lama kenal dengan Martha, tak ragu-ragu mengungkapkan pengalamannya,  ketika berhubungan dengan gigolo dan brondong.
Menurut tante ini,  antara gigolo dan brondong mempunyai rasa yang berbeda. Kalau hanya untuk pemuas nafsu birahi, tidaklah susah, karena sekarang sudah banyak pelacur pria (gigolo). Asal ada uang, gigolo  itu gampang diperoleh, melalui kafe-kafe khusus yang tumbuh menjamur di kota Jakarta atau melalui iklan-iklan di internet. Tapi, mencari brondong amatiran, ini memerlukan seni tersendiri dalam perburuannya. Kalau dapat, ya seperti pemburu dapat buruannya,  senang dan bahagia.
“Apa bedanya antara gigolo dengan brondong amatiran?” tanya Martha.
Tante itu menjawab, “Ya bedalah.” Kalau berhubungan seks dengan   gigolo, mereka berpengalaman, sudah profesional.  Kalau hanya sekedar untuk kepuasan seks dan nafsu birahi  saja, ya sudah cukup. Tapi, karena dia terbiasa melayani banyak wanita,  jadi seperti kaum pria berhubungan dengan pelacur wanita, setiap hari melayani banyak tamu. Si pelacur  mulai jenuh,  terasa kurang gregetan dan tak  segar lagi.  Bahkan, sering mengundang rasa waswas, terutama dalam hal penyakit kelamin.
"Lain halnya dengan brondong amatiran", ujar Lusi,  yang serba segar, masih imut-imut, polos, bersahaja dan merasa tak berdosa. Gambaran masa depannya yang gemilang, optimis, sukses, terkesan rapi, sopan tapi tetap “memberontak.” Angkuh tapi mengundang, cuek dan oleh karenanya justru menggoda.
Dalam berjuang mendapatkannya saja, sudah menyenangkan. Apalagi setelah dapat, lalu berlanjut ke tempat tidur, lebih menyenangkan lagi, serasa muda kembali. Mengenai  rasa waswas atas  kemungkinan mereka mengidap penyakit kelamin, tidak ada. Karena itu, berhubungan seks  dengan brondong yang belum mempunyai pengalaman  tersebut makin menyenangkan, dan kadang-kadang rasanya lucu, karena harus mengajarinya, tutur Lusi.
Tante Lusi juga mengungkapkan, banyak wanita setengah tua yang masih bersuami atau sudah janda,  menjalin hubungan lebih serius dan intens dengan brondong. Dalam arti, satu sama lain saling percaya, persis seperti berhubungan dengan pacar. Mereka ini, sering pula disebut sebagai “pacar gelap” bagi wanita tersebut.
Pacar gelap janda-janda tersebut, sejalan dengan perkembangan hubungannya, bisa berubah menjadi “pacar terang,” setelah diketahui oleh anak-anak dan keluarganya. Bahkan, kemudian dapat meningkat menjadi suatu perkawinan  yang mengkhawatirkan di kalangan anak-anak dan saudara-saudara wanita itu. Sebab, dikhawatirkan kalau perkawinan itu hanya dijadikan alat oleh si brondong untuk memoroti dan menguasai harta kekayaan wanita itu.
Untuk melaksanakan perkawinan, banyak wanita setengah tua, beserta anak-anak dan saudaranya menempuh jalan yang super hati-hati. Misalnya, seperti pengalaman seorang janda kaya, Renny (50 tahun) yang baru melangsungkan perkawinannya dengan pria muda, Andrea (29 tahun), yang ditemui Martha di kafe Cockcomb, di hotel berbintang lima di kawasan Jakarta Selatan (11/2009).
Renny tanpa malu-malu dan penuh rasa bangga, mengungkapkan tentang perkawinanya kepada Martha: Tidak ada masalah dengan perkawinanku. Memang semula ada kekhawatiran dari anak-anak, cucu-cucu dan saudaraku tentang perkawinanku, kalau hanya dijadikan oleh suamiku sebagai alat untuk memoroti dan mengeruk harta kekayaanku. Tetapi, kekhawatiran itu dapat diatasi dengan cara mengadakan inventarisi kekayaanku oleh akuntan publik, ujar Renny.
Renny melanjutkan ceritanya: Sebelum melangsungkan perkawinanku, aku menghitung seluruh kekayaanku yang ada. Setelah itu, dengan calonku datang ke kantor notaris, membuat akta perjanjian, yang isinya antara lain,  hartaku sejumlah yang telah diinventaris itu, tidak bisa diganggu gugat oleh suamiku. Kalau ada kenaikan jumlah selama perkawinan, maka kenaikan jumlah itulah yang kemudian dijadikan sebagai harta gono-gini.
“Kekhawatiran dalam soal harta itu adalah wajar di kalangan anak-anak dan saudara-saudara dari janda-janda kaya yang memilih kawin lagi. Apalagi kawin dengan anak muda, tapi kita harus pintar-pintar mencari solusi, supaya hubungan perkawinan itu tidak seperti duri dalam daging, baik pada diri kita sendiri atau anak-cucu dan saudara-saudara,” tutur Renny.
***
 Brondong sering dijadikan sarana berselingkuh oleh wanita-wanita yang bersuami. Pada umumnya, berselingkuh dengan brondong,  mempunyai resiko keuangan. Sebab, brondong berusia muda demikian, belum mempunyai pekerjaan.
Walau pun ada yang mengatakan, tidak selalu mempunyai resiko materi.  Tetapi unsur uang, meski tidak besar, tetap saja berperan penting. Sebab, umumnya si brondong  belum mempunyai pekerjaan, perlu  ditunjang dengan uang untuk segala keperluan hidupnya, terutama dalam penampilan. Karena itu, tidak semua wanita bisa berselingkuh atau berpacaran secara gelap dengan brondong. Sebab, banyak pula wanita yang memiliki keterbatasan uang untuk hal tersebut.
Wanita yang berhubungan dengan brondong,  pada mulanya hubungannya bersifat rahasia. Tetapi, lama-kelamaan jadi “rahasia umum.” Walaupun tidak boleh ketahuan, akhirnya diketahui juga oleh semua orang. Mulanya hanya teman dekat, lalu tanpa disadari, hubungannya dengan brondong itu sudah menyebar ke seluruh penjuru lingkungan hidupnya dan masyarakat.
Marisa, wanita setengah tua yang  masih kelihatan  cantik di usianya 47 tahun, ketika ditanya oleh Martha, mana yang lebih baik berhubungan dengan pria brondong atau pria seusianya?
Marisa menjawab: Aku pernah berselingkuh dengan keduanya, dan aku sudah merasakan senang dan pahit getirnya.   Pria usia 20-an itu “napsuan,” belum berpengalaman, belum tahu apa yang aku inginkan,  dan masih labil mentalnya. Beda banget dengan pria 40-an yang lebih matang dan tahu apa yang aku inginkan.
Kalau pria 20-an, berhubungan seks  dengan wanita lebih matang (40-an) seperti aku ini, aku jadi merasa “capek deh.” Sebab, aku harus mengajari lagi, mengayomi dia. Maunya sih mencari kepuasan di luar suami. Sebaliknya, yang terjadi malah menjadi beban segalanya. Beban keuangan, beban pikiran dan beban lainnya.
Karena itu, aku pikir lebih baik dengan pria berusia 40-an, yang biasanya sudah matang dari segi mental dan keuangan. Jadi, aku tidak memikirkan lagi masalah uang. Dalam masalah berhubungan di tempat tidur, aku lebih enjoy, aman dan sama-sama berpengalaman. Persoalannya, kebanyakan pria 40-an itu sudah menikah. Jadi, aku perlu super waspada menghadapi istrinya dan suamiku sendiri,  tutur Marisa.
Tidak semua kehidupan kaum brondong di Indonesia bernuansa negatif. Sebab, ada juga yang berakhir happy ending sampai akhir hayatnya.  Seperti dialami oleh bintang film top di Indonesia, almarhumah Suzanna, sampai akhir hayatnya tetap bersama suaminya Cliff Sangra yang berbeda usia 20 tahun lebih.
Paulina, wanita berusia 49 tahun, yang berselingkuh dan berpacaran dengan brondong hampir selama lima tahun, ketika ditanya  Martha, “Apa artinya bagi Anda berhubungan dengan brondong?”  Paulina menjawab, “Brondong seperti suplemenlah. Dalam hidup ini, kita butuh berbagai macam suplemen sebagai selingan, ya brondong itulah salah satunya.” 
“Apa tidak merepotkan?” tanya Martha. “Tidak juga, itu tergantung pada  kita saja. Dia tidak pernah macam-macam kok, biasa-biasa saja. Kalau perlu keluar biaya ekstra sedikit, ya itukan sudah wajar, karena mereka belum bekerja. Hitung-hitung bantu merekalah, dan mereka juga bantu kita” ujar Paulina.
***
Dalam hal selingkuh,  tidak memandang usia dan derajat. Seorang guru yang seharusnya memberikan pelajaran dan contoh yang baik pada muridnya, tapi muridnya merasa dikerjain.
Teman saya Anita, berhasil mewawancarai seorang brondong, Stephane dengan panggilan “Step,” siswa kelas satu SLTA swasta di Jakarta Timur, seusai sekolah, di kantin sekolahnya (01/10).
Step yang  ganteng itu, bonsor dan baru memasuki usia 16 tahun. Kulitnya putih, hidung mancung, tubuh tinggi dan atletis,  mengaku  bahwa sebulan lalu dikerjain oleh bu guru bahasa Inggrisnya. Ibu gurunya itu,  cukup cantik, berusia 42 tahun, sudah punya anak tiga orang. Satu  kuliah di Bandung, satu sekolah di SLTA di kampung bersama neneknya dan satu lagi tinggal bersama bu guru itu, di Jakarta dan bersekolah kelas dua SD. 
Step bercerita:  Malam itu aku dari pukul 19 sampai 21 adalah jadwal les bahasa Inggris  bersama  tujuh temanku dengan bu guru, di rumah bu guru di kawasan Jakarta Timur.
Pukul 6.45 aku telah sampai di rumah bu guru, meski di perjalanan aku  sempat kehujanan. Pakaianku basah kuyup sesampai di rumah bu guru. Tapi, bu guru dengan baik hati mempersilahkanku mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian putranya, yang tersimpan rapi  dalam lemari.
Selesai aku mandi dan berganti pakaian, hujan belum juga berhenti, teman-temanku juga tak ada yang datang. Tak lama kemudian lampu mati, aku bantu bu guru menyalakan lilin.
Suami bu guru tidak ada di rumah. Menurut bu guru, suaminya sedang tugas ke luar kota beberapa minggu. Dan di rumah itu hanya ada bu guru dan putrinya, Anny berusia 7 tahun.
Bu guru menawarkan aku makan, tapi tawaran itu aku tolak, dengan alasan masih kenyang. Ketika bu guru menawarkan teh manis panas, aku senang sekali. Sebab, aku memang kedinginan, mungkin dengan meminum teh  panas, bisa sedikit memanaskan badanku.
Sudah pukul 23 malam, hujan deras belum juga berhenti. Aku menjadi gelisah. Aku takut tidak ada lagi angkutan kota (angkot)  untuk pulang ke rumahku. Ibuku menelepon ke HP-ku menanyakan di mana posisiku. Aku jawab, bahwa diriku masih di rumah bu guru. Nanti kalau hujan reda, aku akan segera pulang. ”Apa kamu perlu dijemput,” tanya ayahku. Aku jawab “Tidak usah, nanti kalau hujan reda aku pulang sendiri.”
Malam sudah larut, hujan masih turun dengan derasnya. Dan lampu juga belum menyala. Sedangkan putri bu guru sudah lama tertidur pulas. Melihat situasi itu, bu guru berkata kepadaku, “Udahlah Step, kamu nginap di sini saja sekalian temani ibu. Aku jawab, “Baik bu, tapi aku telepon ibuku dulu."
Setelah aku telepon, ibuku tidak berkeberatan aku menginap di rumah bu guruku, dengan pesan besok pagi cepat pulang, karena paginya aku harus ke sekolah.
Bu guru sudah mengganti bajunya dengan pakaian tidurnya, lalu mengantar aku ke kamar putranya yang kosong. Aku dipersilahkan tidur di kamar itu. Di bawah cahaya lilin yang remang-remang, aku sempat juga melihat paras bu guruku dengan pakaiannya sedikit terbuka.  Buah dadanya sedikit menonjol, begitu cantik dan sexy, meski sudah berusia kepala empat. Bau farfumnya tidak terlalu keras, harum,  lembut,  sedikit membangkitkan pikiran kotorku, seperti dalam film porno yang pernah aku tonton.
Aku tak bisa tidur pulas, sering terbangun, terganggu dengan kilat dan petir yang setiap saat muncul, menghiasi hujan yang semakin deras. Putri bu guru yang tidur sendirian di kamarnya, di sebelah kamarku pun terbangun. Ketakutan dengan bunyi petir yang sambung menyambung, ia menangis. Aku belum mendengar suara bu guru mendiamkan putrinya. Aku pikir dari pada putri bu guru menangis terus karena ketakutan,  apa salahnya aku bantu mendiamkannya.
Aku dekati putri bu guru itu, aku bujuk dia supaya tidak menangis dan ketakutan. Selagi aku berada di kamar Anny, bu guru masuk dan menanyakan kepadaku, “Ada apa Step.” Aku jawab, “Dek Anny menangis dan ketakutan bu, karena itu aku mencoba mendiamkannya.”
Mendengar jawabanku itu, bu guru berbalik keluar, lalu membuka kulkas, mengambil air minum, kemudian meminumkan kepada putrinya. Dengan naluri seorang ibu, bu guru berhasil  membujuk dan menghibur putrinya. Anny pun tidur kembali. Aku menyaksikan bu guru dengan putrinya, sambil tetap duduk di pinggir tempat tidur Anny, di bawah cahaya lilin yang remang-remang. Aku kagum dengan cara bu guru membujuk dan mendiamkan putrinya, dengan  penuh kasih sayang.
Setelah putrinya tertidur kembali, bu guru mengajak aku keluar dan duduk di sofa, lalu bu guru  menanyakan, “Apa di kamarmu ada selimut?” Aku jawab “Ada bu.” Terus bu guru menanyakan, “Apa kamu kedinginan,” sambil ia memijat-memijat tubuhku dengan lemah lembut. Meski sudah aku jawab, “Tidak bu,” tapi tangan bu guru tetap saja memijit-mijit badanku.
Aku merasa ada suatu kenikmatan muncul, yang memancing nulari kelaki-lakianku. Hal itu berlanjut, setelah bu guru membuatkan teh panas manis untukku. Kami kemudian duduk di sofa berdua, sambil menjaga Anny yang lagi tidur nyenyak, dari keterbangunannya kembali. Sebab, malam itu bunyi petir dan hujan deras juga belum berhenti.
Aku menjadi nafsu dengan pijitan bu guru, dan makin lebih bernafsu bila aku tersenggol payudara bu guru yang sedikit besar, dengan kulitnya yang putih. Masih terlihat olehku,  walau di bawah cahaya lilin yang remang-remang.
Bu guru tidak banyak memberikan reaksi, kecuali memijat-mijat aku, dan sekali-sekali tangannya tanpa sengaja menyenggol kemaluanku. Aku jadi memuncak. Aku pegang buah dada bu guru, dia membiarkan. Aku peluk dan cium dia, ibu guru pun tidak banyak memberikan reaksi. Aku rapatkan tubuhku kepada bu guru, aku menjadi keenakan, menjadi hangat. Alat vitalku yang dari tadi bangun, kepentok dengan tubuh bu guru yang lembut. Aku menjadi tak tahan lagi.
Ketika tangan bu guru, sampai memegang pisak celanaku, bu guru bertanya, “Kenapa kamu?” Dengan malu-malu aku jawab, “Aku tak tahan lagi, aku ngecor sendiri.” Bu guru hanya sedikit senyum, lalu pergi ke kamar putrinya yang lagi terbangun oleh bunyi petir yang menggelegar. Aku tinggal bengong sendiri di sofa sampai pagi, mengingat indahnya kejadian tadi........................
Selanjutnya dapat dibaca di Buku Wanita-Wanita Selingkuh, yang dapat diperoleh di Toko Buku Gunung Agung........